kualifikasi
dalam program yang saya ikuti, salah satu yang paling berat adalah kualifikasi. tepatnya: ujian kualifikasi doktor. kata profesor saya, sistem ini mengadopsi yang diterapkan university of illinois dan stanford — tempat dulu para mbah-mbahnya ilmu komunikasi memulai sejarah disiplin ini. malahan — saya rasa mereka hanya menakut-nakuti, ujian ini lebih berat daripada promosi doktoralnya nanti.
syarat mengikuti ujian ini adalah telah lulus semua mata kuliah wajib. itu artinya pada semester tiga. namun bila ada yang tidak lulus atau harus mengikuti matrikulasi, maka harus menunggu satu tahun kemudian. puji tuhan, saya bisa mengikutinya tepat waktu.
saya belum bisa membuktikan mana yang lebih berat, mungkin baru setahun lagi. naman bahwa ujian kualifikasi itu berat, saya sudah membuktikannya. baru kemarin, dan kemarin lusa.
senen, dua puluh empat november, hari pertama. mata uji: perspektif teori komunikasi. waktu: enam jam. tapi kami berempat meminta tambahan. menjadi: sepuluh jam. dua teman saya membawa dua tas belanja berisi buku-buku tebal. tau seperti apa wajah-wajah ketika keluar ruang ujian? susah mencari analoginya. tapi, katakanlah, itu adalah wajah-wajah pasrah.
selasa duapuluh lima november, hari kedua. mata uji: perspektif teori komunikasi massa. karena pasrah, yang dibawa sekarang tinggal saru tas belanjaan. ajaibnya, semua keluar dengan wajah yang sedikit lebih berpengharapan. mungkin karena malamnya bebas dari penderitaan ketidakpastian soal seperti apa yang bakal menekan jiwa raganya.
sekarang, ngempos dulu…
(ngempos, banyumas, mengambil jeda bernafas sebelum melanjutkan aktifitas selanjutnya)